Dosen UAD Angkat Etika Melayu dan Raja Ali Haji di Forum Internasional UIS Malaysia
Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. Arif Rahman, M.Pd.I., menjadi narasumber dalam International Educational Knowledge Sharing Programme in Conjunction with the Inbound Mobility Programme to Universiti Islam Selangor (UIS), Senin (10/8/2026).
Kegiatan internasional yang diselenggarakan Fakultas Pendidikan Universiti Islam Selangor (UIS), Malaysia, tersebut berlangsung secara daring dan diikuti peserta dari sejumlah negara, di antaranya Malaysia, Indonesia, dan Brunei Darussalam. Program ini merupakan bagian dari rangkaian Inbound Mobility Programme UIS yang berlangsung pada 10–24 Agustus 2026.

Dalam forum tersebut, Arif membawakan materi bertajuk “Serumpun Bukan Sekadar Serupa: Menemukan Kembali Adab dan Akhlak Nusantara”. Materi mengangkat kembali kedekatan masyarakat serumpun Melayu bukan semata-mata dari sisi bahasa dan sejarah, tetapi juga melalui nilai adab, akhlak, kebudayaan, serta kesusastraan yang membentuk identitas masyarakat Nusantara.
Arif menyoroti bahwa kemajuan teknologi dan perubahan gaya hidup tidak seharusnya membuat masyarakat serumpun tercerabut dari akar kebudayaannya. Menurutnya, hubungan Indonesia, Malaysia, Brunei, dan masyarakat Melayu di kawasan Asia Tenggara memiliki jejak sejarah dan nilai yang kuat, sehingga penting diwariskan kepada generasi muda dalam konteks kehidupan kontemporer.
“Serumpun jangan hanya dipahami karena kita memiliki sejumlah kesamaan bahasa atau budaya. Ada nilai adab dan akhlak yang sejak lama menjadi fondasi masyarakat Nusantara dan perlu terus dikenalkan kepada generasi sekarang,” ujar Arif dalam pemaparannya.
Mengingat Kembali Raja Ali Haji
Dalam sesi tersebut, Arif juga mengajak peserta mengenal kembali Raja Ali Haji, salah satu tokoh penting dalam perkembangan bahasa dan kesusastraan Melayu. Nama Raja Ali Haji tidak dapat dilepaskan dari perkembangan tata bahasa Melayu serta karya monumental Gurindam Dua Belas, yang sarat dengan pesan moral, agama, adab, dan kehidupan sosial.
Menurut Arif, figur seperti Raja Ali Haji perlu semakin diperkenalkan kepada generasi muda. Di tengah kuatnya arus budaya global, karya-karya sastra Nusantara justru berisiko semakin jauh dari keseharian generasi sekarang.
Padahal, pengaruh Raja Ali Haji telah mendapat pengakuan hingga tingkat internasional. Patungnya berdiri di Magtymguly Pyragy Cultural Park, Ashgabat, Turkmenistan, bersama patung sejumlah tokoh sastra dunia. Pemerintah Turkmenistan sendiri menyebut Raja Ali Haji sebagai salah satu representasi tokoh sastra dunia yang diabadikan di kawasan tersebut.

Bagi Arif, fakta tersebut menjadi pengingat bahwa kekayaan intelektual Nusantara semestinya tidak hanya dikenal dan dihargai di luar negeri, tetapi juga terus diperkenalkan di lingkungan pendidikan Indonesia.
“Kita memiliki tokoh besar yang karya dan pemikirannya diakui dunia. Jangan sampai generasi muda justru semakin asing dengan Raja Ali Haji dan Gurindam Dua Belas. Sastra bukan hanya karya masa lalu, tetapi menyimpan nilai yang tetap relevan untuk membaca kehidupan hari ini,” ungkapnya.
Selain Arif Rahman, kegiatan hari pertama tersebut juga menghadirkan Madam Muslima dari UIN Ar-Raniry Aceh yang membahas peranan dan akhlak wanita Nusantara di media sosial, serta Dr. Finadatul Wahidah, M.Pd.I. dari Universitas Islam KH. Achmad Muzakki Syah (UNIKHAMS) Jember yang membahas dinamika belajar anak di tengah perkembangan dunia digital.
Kehadiran para akademisi dari berbagai institusi menjadikan forum tersebut sebagai ruang berbagi pengetahuan sekaligus mempertemukan perspektif pendidikan dan kebudayaan dari masyarakat serumpun.
Program internasional ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik lintas negara. Dalam surat undangan resminya, Fakultas Pendidikan UIS menyebut kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memberi manfaat kepada peserta, tetapi juga memperkuat jaringan kerja sama akademik antarinstitusi.
Melalui forum tersebut, keterlibatan dosen UAD tidak hanya menjadi bagian dari aktivitas akademik internasional, tetapi juga membawa misi mengenalkan kembali khazanah adab, kebudayaan, dan kesusastraan Nusantara kepada masyarakat serumpun.


